Kali ini saya akan menjelaskan tahapan IPB menjadi Universitas yang besar. Mulai dari tahap Embrional hingga ke tahap Otonomi.
Berikut tahap-tahap yang harus dilalui Institut Pertanian Bogor :
Tahap Embrional (1941-1963)
Tahap embrional perkembangan IPB diawali dengan adanya
lembaga-lembaga pendidikan menengah dan tinggi pertanian serta
kedokteran hewan yang dimulai pada awal abad ke-20 di Bogor. Sebelum
perang dunia II lembaga-lembaga pendidikan menengah tersebut dikenal
dengan nama Middelbare Landbouw School, Middelbare Bosbouw School dan
Nederlandsch Indiche Veeartsen School.
Pada tahun 1940 , Pemerintah Hindia Belanda mendirikan Lembaga
Pendidikan Tinggi Pertanian di Bogor dengan nama Landbouw Hogeschool
yang kemudian pada tanggal 31 Oktober 1941 dinamakan Landbowkundige
Faculteit. Namun ditutup pada masa pendudukan Jepang (1942-1945),
sedangkan Nederlandsch Indische Veeartsenschool (sekolah Kedokteran
Hewan) tetap berjalan. Hanya saja namanya diubah menjadi Bogor Zui Gakku
(Sekolah Dokter Hewan Bogor). Sejalan dengan masa kemerdekaan tahun
1946, Kementerian Kemakmuran Republik Indonesia meningkatkan Sekolah
Dokter Hewan di Bogor menjadi: Perguruan Tinggi Kedokteran Hewan(PTKH).
Pada tahun 1947 Lembaga Pendidikan Tinggi Pertanian, Landbowkundige
Faculteit dibuka kembali dengan nama Faculteit Voor
Landbouw-Wetenschappen yang mempunyai jurusan Pertanian dan Kehutanan.
Sedangkan PTKH pada tahun 1948 dijadikan Faculteit voor Dierge neeskunde
di bawah Universiteit van Indonesie yang kemudian berubah nama menjadi
Universitas Indonesia.
Pada tahun 1950 Faculteit voor Landbouw-wetenschappen berubah nama
menjadi Fakultas Pertanian Universitas Indonesia dengan tiga jurusan
yaitu Sosial Ekonomi, Pengetahuan Alam dan Kehutanan serta pada tahun
1957 dibentuk jurusan Perikanan Darat. Adapun Faculteit voor
Dieergeneeskunde berubah menjadi Fakultas Kedokteran Hewan. Universitas
Indonesia yang pada tahun 1960 berubah nama menjadi Fakultas Kedokteran
Hewan dan Peternakan. Selanjutnya pada tahun 1962 menjadi Fakultas
Kedokteran Hewan, Peternakan Universitas Indonesia.
Beberapa tonggak sejarah yang penting diketahui pada tahap embrional
adalah: (1) penerapan sistem studi terbimbing yang menggantikan sistem
studi bebas, (2) gagasan pembangunan kampus baru Fakultas Pertanian UI
di Darmaga, dan (3) penerapan falsafah Tridharma Perguruan Tinggi yang
semula berlaku di Fakultas Pertanian dan Fakultas Kedokteran Hewan dan
Peternakan UI, oleh Prof.Dr.Ir. Toyib Hadiwidjaja. Nasionalisasi
perusahaan-perusahaan Belanda di Indonesia memasuki tahun 1960, memberi
peluang bagi IPB untuk menambah lahan kampus, sehingga selain Kampus
Barangangsiang, Kampus Taman Kencana, Kampus Gunung Gede dan Kampus
Cilibende, IPB juga memiliki Kampus Darmaga, Kebun Pasir Sarongge, Kebun
Sukamantri dan Kebun Jonggol.
Sejarah IPB – Tahap Pendewasaan (1975-2000)
Awal kurun waktu tahap pendewasaan ini ditandai dengan dosen IPB yang
kembali dari tugas belajar di luar negeri, masa bakti ke dua
Prof.Dr.Ir.A.M. Satari selaku Rektor IPB, serta reboisasi lahan gundul
yang kini menjadi Hutan Pendidikan Gunung Walat, Sukabumi.
Memasuki pergantian kepemimpinan Rektor IPB dari Prof.Dr.Ir.A.M.
Satari ke Prof.Dr.Ir.H. Andi Hakim Nasution. Pada tahun 1978, IPB
mengembangkan kerjasama tahap pertama (1979-1983) dengan University
Wiscouncin di bidang peningkatan kemampuan tanaga pengajar, khususnya di
bidang ilmu-ilmu lingkungan dan ilmu gizi, sehingga pada tahun 1981
lahir Fakultas Politeknik Pertanian.
Sejalan dengan perluasan kesempatan belajar pada pendidikan tingkat
tinggi dan menghadapi ledakan populasi pemuda usia 18 tahun ke atas, IPB
menyesuaikan rencana induk pengembangan tahun 1971-1979 dengan menyusun
rencana pengembangan akademik dan rencana pengembangan fisik kampus
Darmaga berdasarkan proyeksi permasalahan yang akan dihadapi tahun 2000,
seperti: (1) masalah penyediaan pangan dan pemeliharan gizi masyarakat,
(2) masalah pengelolaan sistem penunjang kehidupan manusia di dalam
lingkungan, (3) masalah pengadaan energi dari berbagai sumber energi dan
konvensional, dan (4) masalah pengumpulan pengelolaan dan penyebaran
informasi di dalam populasi besar dengan tujuan meningkatkan ketahanan
nasional. Pemahaman terhadap masalah ini, telah menempa IPB untuk
memperkuat kompetensinya di bidang pertanian dalam arti yang
seluas-luasnya dan menjadi lembaga pendidikan tinggi pertanian terkemuka
di Indonesia.
Pada periode Rektor IPB Prof.Dr.Ir. Sitanala Arsyad selama 2 periode
masa bakti 1987-1991 dan 1992-1996, IPB telah membangun kampus Darmaga
berdasarkan master plan 1982. Pembangunan fisik ini juga telah diimbangi
dengan perkembangan program pendidikan S0, S1, S2 dan S3, metode
instruksional dan pembinaan kemahasiswaan, perkembangan pusat penelitian
dan pusat pengembangan serta kepercayaan dari dalam dan luar negeri.
Hal ini antara lain terlihat dengan adanya pembangunan 3 Pusat Antar
Universitas (PAU) dalam bidang Ilmu Hayati, Bioteknologi, Pangan dan
Gizi.
Sampai dengan tahun 1992 di kampus Darmaga telah dibangun gedung
Fakultas Teknologi Pertanian, gedung Pusat Penelitian Lingkungan Hidup
(PPLH), Lembaga Sumberdaya Informasi, Laboratorium Analisa dan Produksi
Benih, Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga (GMSK) Faperta
IPB, dan Gedung Pusat antar Universitas PAU yang terdiri dari PAU
Hayati, PAU Bioteknologi dan PAU Pangan dan Gizi. Sampai pada tahun 1996
telah dibangun gedung Rektorat IPB dan bangunan Fakultas Peternakan
serta Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Sampai dengan tahun 2000
telah dibangun Fakultas Pertanian, Fakultas Kedokteran Hewan dan Rumah
Sakit Hewan Pendidikan.
Pada periode Rektor IPB Prof.Dr.Ir.H. Soleh Salahuddin,M.Sc yaitu
tahun 1996-1998, IPB telah memiliki 144 Program Studi (PS), yang terdiri
dari 30 PS untuk Program Diploma, 39 PS untuk Program Sarjana, 51 PS
untuk Program Magister dan 25 PS Program Doktor yang tersebar di 8
Fakultas dan Program Pascasarjana. Keberadaan program studi ini juga
didukung dengan adanya 25 pusat studi dan pusat pengembangan , sehingga
tercipta budaya meneliti di kalangan civitas akademika IPB . Melanjutkan
implementasi rencana induk pengembangan IPB tahun 2000 yang akan
berakhir, disusunlah rencana strategis IPB menjadi Universitas Tahun
2020. Menyadari peranan perguruan tinggi tidak terlepas dari konteks
pembanguan nasional, maka IPB mengajak segenap komponen bangsa untuk
menjadikan pertanian sebagai common platform pembangunan nasional. Hal
ini terbukti ketika Indonesia menghadapi resesi ekonomi dan moneter
tahun 1997, sektor agroindustri dan agribisnis menjadi pilar penyelamat
ekonomi nasional.
Pada masa kepemimpinan Rektor IPB Prof.Dr.Ir. Aman Wirakartakusumah
yaitu tahun 1998-2002, IPB secara proaktif terlibat langsung dalam
reformasi pendidikan sebagai bagian tidak terpisahkan dari gerakan
reformasi nasional yang bergulir sejak 1997. Melalui Peraturan
Pemerintah 154 tahun 2000, IPB menjadi salah satu dari empat perguruan
tinggi nasional berbasis Badan Hukum Milik Negara. Penyusunan Renstra
IPB menjadi Universitas 2020 kemudian diakomodasikan dalam implementasi
Otonomi IPB dengan masa transisi kelembagaan selama 5 tahun (sampai
2005) dan masa transisi kepegawaian selama 10 tahun (2010), hingga mampu
menghasilkan lulusan dengan budaya-mutu yang siap menghadapi
globalisasi. Dalam perjalanan tersebut, berdiri beberapa unit kerja,
seperti jurusan Ilmu Komputer, Kantor Haki dan Alih Teknologi, Program
Internasioanal, Fakultas Ekonomi dan Manajemen (2001), serta asrama
mahasiswa TPB dengan menekankan pada pembinaan akademik dan
multi-budaya. Pada masa ini terbentuk Majelis Wali Amanat (MWA) sebagai
badan tertinggi yang menentukan arah pengembangan IPB termasuk memilih
Rektor periode 2002-2007.
Sejarah IPB – Tahap Otonomi
Prof.Dr.Ir.Ahmad Ansori Mattjik,M.Sc merupakan Rektor IPB yang
pertama dipilih dalam mekanisme IPB sebagai BHMN Rektor dipilih oleh
MWA untuk masa bakti 2003-2007 dengan program kerja utama untuk
mewujudkan academic excellent dan generating income excellent, sehingga
diharapkan mampu menghantarkan IPB sebagai universitas riset yang
secara embrional terwujud pada tahun 2007.
Dr. Ir. H. Herry Suhardiyanto, M.Sc. merupakan Rektor IPB yang
dipilih melalui Pemilihan Raya IPB BHMN sebagai Rektor yang dipilih oleh
MWA untuk masa bakti 2008-2013 dengan program kerja utama untuk
Menyelaraskan Mosaik Transformasi IPB menuju Research based
Entrepreneurial University Kelas Dunia dengan Kepemimpinan yang Melayani
dan Terpercaya.